Di Indonesia, gaji komisaris dan direktur di perusahaan BUMN sering kali menjadi topik pembicaraan yang hangat. Mengetahui kisaran gaji yang mereka terima menjadi penting bagi masyarakat untuk menilai transparansi dan akuntabilitas perusahaan-perusahaan tersebut.
Gaji yang diterima oleh komisaris dan direktur BUMN bervariasi tergantung pada beberapa faktor. Di antara faktor-faktor tersebut adalah skala bisnis, kinerja, dan kondisi finansial masing-masing perusahaan yang tentunya di bawah pengawasan pemerintah.
Selain mendapatkan gaji pokok, keduanya biasanya juga menerima berbagai tunjangan. Tunjangan yang diterima bisa termasuk tunjangan transportasi, THR, dan bonus kinerja, yang terkadang mencapai jumlah yang signifikan.
Berbagai Faktor yang Mempengaruhi Besaran Gaji BUMN
Gaji komisaris dan direktur BUMN tidak ditentukan secara seragam di seluruh perusahaan. Salah satu faktor yang paling mendasar adalah ukuran dan kompleksitas perusahaan tersebut.
Perusahaan besar seperti PLN dan Pertamina cenderung memiliki struktur gaji yang jauh lebih tinggi. Sebaliknya, BUMN yang lebih kecil memiliki kisaran gaji yang lebih rendah berdasarkan sumber daya dan kinerja yang dimiliki.
Selain itu, kinerja perusahaan juga berpengaruh signifikan. Semakin tinggi profitabilitas, semakin besar pula bonus atau tantiem yang bisa didapatkan oleh komisaris dan direktur.
Pemerintah juga mengatur besaran gaji ini. Melalui peraturan yang berlaku, seperti PER-13/MBU/09/2021, struktur penggajian diatur agar tetap transparan dan akuntabel.
Dengan demikian, ada banyak aspek yang perlu dipertimbangkan saat membahas gaji komisaris dan direktur BUMN, mulai dari kinerja hingga regulasi pemerintah.
Estimasi Gaji Direktur Utama di Beberapa BUMN
Gaji direktur utama BUMN sangat bervariasi, tergantung pada perusahaan dan sektornya. Sebagai contoh, direktur utama PLN dilaporkan menerima gaji pokok sekitar Rp277 juta per bulan, ditambah dengan tantiem yang bisa mencapai Rp19,11 miliar per tahun.
Angka-angka tersebut menunjukkan betapa tingginya potensi penghasilan seorang direktur utama BUMN besar. Jika ditotal, penghasilan tahunan mereka bisa mencapai puluhan miliar rupiah.
Contoh lain datang dari Bank Mandiri, di mana gaji direktur utamanya tercatat rata-rata sekitar Rp3,67 miliar per bulan. Ini menempatkannya di posisi atas dalam hal kompensasi di sektor perbankan.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa posisi sebagai direktur utama di BUMN besar sangat menjanjikan, tidak hanya dalam hal tanggung jawab tetapi juga penghasilan yang diterima.
Hal ini semakin memperjelas bahwa gaji direktur di BUMN besar selaras dengan kompleksitas dan tanggung jawab yang mereka emban.
Estimasi Gaji Komisaris Utama di Beberapa BUMN
Komisaris utama juga memiliki pendapatan yang signifikan meskipun biasanya lebih rendah dibandingkan dengan direktur utama. Sebagai contoh, komisaris utama MIND ID dilaporkan mendapatkan sekitar Rp146,25 juta per bulan.
Selain itu, mereka juga mendapatkan tambahan tunjangan dan tantiem, yang membuat total penghasilan tahunan mereka bisa mencapai Rp2,25 miliar. Hal ini menunjukkan bahwa posisi komisaris utama juga menawarkan penghasilan yang kompetitif.
Komisaris utama BNI diperkirakan memperoleh honorarium sekitar Rp916 juta per bulan, yang juga termasuk dalam kategori gaji tinggi. Karenanya, posisi ini dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi profesional yang berkarier di BUMN.
Dengan demikian, gaji komisaris utama di BUMN besar menunjukkan tingkat kompensasi yang sebanding dengan tanggung jawab dan kontribusi yang diberikan.
Kesimpulannya, penghasilan komisaris utama mencerminkan nilai penting yang mereka bawa bagi keberlangsungan dan kinerja perusahaan.
Komponen Pendapatan Lainnya Selain Gaji Pokok
Selain gaji pokok, komisaris dan direktur di BUMN juga mendapatkan berbagai bentuk kompensasi lainnya. Salah satu komponen yang penting adalah tunjangan transportasi, yang bertujuan untuk mendukung mobilitas dalam bekerja.
Tunjangan Hari Raya (THR) juga diberikan kepada keduanya, yang umumnya setara dengan satu kali honorarium bulanan. Ini menjadi salah satu bentuk penghargaan terhadap kinerja mereka selama setahun.
Selain itu, terdapat pula tantiem, yang merupakan bonus kinerja tahunan. Tantiem ini bisa memiliki nilai yang sangat besar, terutama bagi perusahaan yang meraih laba tinggi.
Tunjangan lainnya termasuk asuransi purnajabatan serta fasilitas kesehatan, yang semakin menambah total kompensasi yang diterima oleh komisaris dan direktur BUMN.
Melalui laporan keuangan tahunan, informasi mengenai besaran gaji, honorarium, dan bonus sering kali tersedia untuk umum, mendukung transparansi di sektor BUMN.





