Kasus seorang pendaki gunung yang ditemukan meninggal setelah hampir dua pekan pencarian menyoroti pentingnya kewaspadaan terhadap bahaya hipotermia. Kondisi ini sering dianggap remeh sebagai kedinginan biasa, padahal di dunia medis, hipotermia bisa berakibat fatal jika tidak ditangani dengan segera.
Hipotermia terjadi ketika suhu inti tubuh turun di bawah 35 derajat Celsius. Ketika hal ini terjadi, tubuh kehilangan panas lebih cepat daripada kemampuannya untuk memproduksi panas, sehingga organ-organ vital mulai terganggu dan bisa menyebabkan komplikasi serius.
Penyebab utama hipotermia biasanya adalah paparan cuaca dingin atau terendam di air dingin. Kedaruratan ini juga bisa terjadi dalam suhu yang tidak terlalu dingin jika tubuh dalam keadaan basah, kelelahan, atau tidak memperoleh cukup energi.
Saat suhu tubuh menurun, sistem saraf, jantung, dan otak akan terganggu. Tanpa penanganan yang tepat, hipotermia dapat menyebabkan gangguan irama jantung, kehilangan kesadaran, bahkan kematian dalam kasus parah.
Dalam prosesnya, hipotermia tidak muncul secara instan, melainkan melalui beberapa tahapan. Setiap tahap memiliki tanda dan gejala yang berbeda yang perlu kita ketahui untuk menjaga keselamatan, terutama saat melakukan aktivitas di luar ruangan.
Memahami Proses Terjadinya Hipotermia Secara Mendalam
Hipotermia ringan ditandai dengan suhu tubuh antara 35 hingga 32 derajat Celsius. Pada tahap ini, gejala yang muncul biasanya adalah menggigil hebat, kelelahan, dan kesulitan berbicara.
Setelah itu, kita memasuki tahap hipotermia sedang, di mana suhu tubuh berkisar antara 32 hingga 28 derajat Celsius. Pada tahap ini, menggigil mulai berkurang dan kesadaran seseorang dapat menurun dengan tanda-tanda kulit berwarna kebiruan.
Kondisi hipotermia berat terjadi ketika suhu tubuh turun di bawah 28 derajat Celsius. Pada tahap ini, tubuh dapat berhenti menggigil, tekanan darah mulai menurun, dan seseorang bisa kehilangan kesadaran secara drastis.
Paradoks Terhadap Sensasi Panas Pada Hipotermia
Fenomena paradoxical undressing seringkali membingungkan, di mana orang dengan hipotermia ekstrem merasa kepanasan hingga mereka melepaskan pakaian. Ini biasanya terjadi ketika suhu inti tubuh telah turun drastis.
Pada awalnya, tubuh berusaha untuk menjaga panas melalui mekanisme vasokonstriksi. Mekanisme ini berfungsi untuk mempersempit pembuluh darah dan menjaga aliran darah di area vital.
Namun, saat kondisi hipotermia berlanjut, otot yang bertanggung jawab untuk vasokonstriksi akan mulai gagal, menyebabkan pembuluh darah melebar dan darah hangat mengalir ke permukaan kulit, sehingga muncul sensasi panas yang salah.
Risiko Tinggi yang Dihadapi Pendaki Gunung
Pendaki gunung seringkali berada dalam risiko tinggi mengalami hipotermia, dengan faktor seperti cuaca yang tidak menentu, kurangnya persiapan, dan kelelahan fisik. Meskipun mereka siap secara fisik, berbagai elemen bisa terjadi secara tiba-tiba, memperburuk kondisi yang sudah ada.
Kondisi buruk seperti hujan atau angin kencang dapat mengakibatkan kehilangan panas tubuh dengan cepat, terutama saat pendaki tersesat atau terpaksa berada di luar untuk waktu yang lama tanpa perlindungan yang memadai.
Setiap pendaki diharuskan untuk mematuhi prosedur keamanan dan memastikan akses terhadap makanan serta pakaian yang sesuai. Kelelahan fizikal dan kurangnya energi adalah faktor kunci yang membuat tubuh tidak mampu menghasilkan panas yang cukup.
Tindakan Pertolongan Pertama yang Harus Dilakukan
Perlakuan cepat untuk mengatasi hipotermia adalah prioritas utama bagi korban. Langkah pertama adalah memindahkan mereka ke tempat yang lebih hangat dan kering, sambil memastikan untuk mengganti pakaian yang basah.
Setelah itu, penting untuk memanaskan tubuh secara bertahap menggunakan selimut hangat atau teknik lain yang aman. Penghangatan yang terlalu cepat bisa berisiko, didorong oleh fluktuasi suhu tubuh yang tidak dikehendaki.
Melalui pemahaman yang lebih baik mengenai hipotermia, kita dapat lebih siap untuk menghadapi tantangan ketika beraktivitas di luar ruangan. Keselamatan harus menjadi prioritas utama, dan pengetahuan ini berpotensi menyelamatkan nyawa.






