Aksi unjuk rasa yang berlangsung pada 1 September 2025 di Jakarta tidak hanya dipenuhi oleh mahasiswa, tetapi juga dihadiri oleh banyak figur publik dan kreator konten. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa isu yang diperjuangkan memiliki resonansi yang luas di kalangan masyarakat.
Sejumlah influencer terkenal, seperti Ferry Irwandy dan G Pamungkas, turut bergabung untuk menyuarakan aspirasi masyarakat yang dikenal sebagai tuntutan 17+1. Ini menandakan bahwa masalah yang dihadapi masyarakat telah menarik perhatian berbagai lapisan, tidak hanya mahasiswa tetapi juga influencer yang memiliki andil besar dalam membentuk opini publik.
Ferry Irwandy menjelaskan bahwa keterlibatan para KOL dan influencer sangat penting untuk memberdayakan suara rakyat. Kehadiran mereka di tengah kerumunan diharapkan dapat membantu menjaga fokus dan substansi dari aksi tersebut, sehingga pesan yang disampaikan tidak ikut terdistorsi.
Masalah Keadilan Sosial dan Kebijakan DPR
Tuntutan utama dalam unjuk rasa ini mencakup penolakan terhadap fasilitas pensiun bagi anggota DPR. Ferry menilai, kebijakan pensiun bagi anggota DPR sangat tidak adil dan membebani anggaran negara.
Ia mengingatkan bahwa posisi sebagai anggota DPR seharusnya tidak disamakan dengan pegawai negeri sipil. Menurutnya, di tengah kondisi fiskal yang sulit seperti sekarang, kebijakan tersebut sangat tidak realistis.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya melakukan reformasi pada berbagai tingkatan pemerintahan, termasuk legislatif dan eksekutif. Mengidentifikasi pelaku kerusuhan dengan tepat menjadi hal yang krusial agar pemerintah tidak asal menuduh peserta aksi sebagai pelaku anarkis.
Kedamaian dan Kesadaran Politik di Kalangan Masyarakat
Ferry juga memperingatkan bahwa ketidakstabilan politik berpotensi menciptakan situasi darurat. Oleh karena itu, diperlukan konsolidasi agar aksi unjuk rasa tetap berlangsung damai dan terarah.
Ia mengatakan bahwa semua pihak harus mencegah terjadinya kekacauan yang merugikan masyarakat. Kesadaran akan pentingnya menjaga kedamaian selama unjuk rasa merupakan tanggung jawab bersama.
Lebih jauh, ferry menegaskan bahwa setiap individu yang turun ke jalan, termasuk mahasiswa dan pekerja, memiliki hak untuk bersuara dan merupakan representasi dari kedaulatan rakyat. Dengan suara yang bersatu, mereka dapat menunjukkan kekuatan dalam menyampaikan aspirasi.
Pentingnya Partisipasi dan Solidarity Antara Generasi
Peserta demonstrasi berasal dari berbagai daerah, menunjukkan bahwa isu ini merentang di seluruh Indonesia. Contohnya, mahasiswa dari Pati bahkan berangkat ke Jakarta dengan sepuluh bus untuk menyampaikan aspirasi mereka. Meskipun ada intimidasi yang membuat beberapa bus terpaksa kembali, semangat mereka tetap tidak surut.
Solidaritas yang ditunjukkan ini menegaskan bahwa isu keadilan sosial adalah masalah yang relevan bagi generasi sekarang. Partisipasi dari berbagai kalangan menciptakan dampak yang lebih besar, hanya dengan bersatu, mereka dapat membuat pernyataan yang kuat.
Hal ini juga menunjukkan bahwa generasi muda semakin menyadari pentingnya keterlibatan dalam isu-isu politik dan sosial yang mempengaruhi kehidupan mereka. Dengan berpartisipasi, mereka berusaha menyalurkan aspirasi kolektif demi perubahan yang lebih baik.
Komentar dan Tanggapan dari Berbagai Pihak
Aspirasi yang disampaikan dalam unjuk rasa ini mendapat perhatian luas dari berbagai pihak, baik dari kalangan politik, akademisi, maupun masyarakat umum. Banyak yang melihat ini sebagai indikasi bahwa suara rakyat semakin kuat dan terorganisir.
Akademisi mengamati fenomena ini sebagai langkah positif dalam demokratisasi, di mana partisipasi publik semakin diperkuat. Mereka menekankan bahwa keterlibatan langsung masyarakat dalam demonstrasi menunjukkan bahwa rakyat tidak lagi bersikap pasif.
Di sisi lain, pemerintah juga perlu merespons dengan bijak terhadap tuntutan yang disampaikan. Mengabaikan suara rakyat bisa berakibat fatal, menyulut lebih banyak ketidakpuasan di masyarakat.






