Pernahkah Anda merasa makanan yang disajikan di pesawat terasa kurang enak? Sungguh mengherankan, tetapi ada alasan ilmiah mengapa makanan di ketinggian sering kali kurang menggugah selera dibandingkan makanan yang kita nikmati di darat.
Beberapa faktor berkontribusi pada rasa makanan yang berbeda selama penerbangan. Ini bukan sekadar kesalahan dari koki, melainkan akibat dari perubahan kondisi fisik dan persepsi ketika berada di dalam pesawat.
Para ahli di bidang kuliner dan ilmuwan telah melakukan penelitian untuk menentukan penyebab pasti dari fenomena ini. Berikut adalah beberapa alasan mengapa makanan di dalam pesawat terasa aneh dan dapat mengecewakan banyak penumpang.
Mengapa Makanan di Pesawat Tidak Enak?
Kelembaban udara dalam kabin pesawat sangat rendah, terutama pada ketinggian di atas 35 ribu kaki. Dalam kondisi tersebut, indera penciuman dan perasa kita akan mengalami penurunan sensitivitas yang signifikan, yang tentu saja memengaruhi rasa makanan yang disajikan.
Rasa yang hamper tidak terasa ini menyebabkan makanan pesawat cenderung tampak tidak berbumbu dan kurang menarik. Menurut Sarah Bond, seorang ahli gizi, kondisi kabin ini membuat makanan terasa hambar, yang jelas bukan hasil dari masakan yang buruk.
Di tempat yang lebih tinggi, tekanan kabin dan kekeringan benar-benar dapat memengaruhi kemampuan indera kita. Hal inilah yang menyebabkan banyak makanan dalam pesawat kehilangan karakter rasanya, membuat penumpang merasa kecewa saat menjamu selera mereka di udara.
Tekanan Kabin dan Dampaknya Terhadap Rasa
Studi yang dilakukan oleh Fraunhofer Institute di Jerman menunjukkan bahwa kombinasi dari faktor-faktor seperti tekanan rendah, udara kering, dan suara bising di dalam pesawat bisa membuat kepekaan terhadap rasa berkurang. Terutama, kepekaan terhadap rasa manis dan asin dapat turun hingga 30 persen ketika berada di ketinggian tersebut.
Sebaliknya, rasa asam, pahit, dan pedas tidak mengalami pengaruh yang sama. Oleh karena itu, koki pesawat cenderung menambahkan lebih banyak rempah-rempah untuk meningkatkan rasa umami, sehingga makanan tetap menarik saat dinikmati di ketinggian.
Henderson, seorang pengelola situs perjalanan, menyatakan bahwa makanan pesawat umumnya diformulasi dengan banyak rempah untuk mengimbangi kehilangan sensasi rasa. Dengan cara ini, hidangan tetap terasa enak meski berada jauh dari permukaan tanah.
Peran Kebisingan dalam Persepsi Rasa
Kebisingan yang terjadi di dalam pesawat juga memainkan peran penting dalam bagaimana kita merasakan rasa makanan. Saat terbang, suara bising dari mesin dan kebisingan lainnya bisa mengganggu indera kita dan langsung memengaruhi pengalaman makan.
Menariknya, suara yang lebih keras dapat mengurangi persepsi terhadap rasa secara keseluruhan, terutama rasa manis dan asin. Namun, sensasi umami terbilang meningkat, yang jelas menjadi poin menarik bagi para penyaji makanan di pesawat.
Berita baiknya adalah makanan dengan tingkat asam glutamat tinggi, seperti tomat, lebih direkomendasikan di pesawat karena dapat menonjolkan rasa gurih yang lebih kuat. Kelezatan ini sering hadir dalam hidangan yang disajikan selama penerbangan.
Masalah Produksi Massal Makanan di Pesawat
Satu hal yang jarang disadari adalah bahwa makanan di pesawat biasanya diproduksi secara massal. Pembagian ratusan porsi untuk satu kali penerbangan menjadi tantangan tersendiri bagi tim kuliner, terutama karena proses memasak dilakukan di darat.
Definisi ‘massal’ sering kali berarti bahwa makanan telah dipersiapkan sebelumnya dan kemudian dipanaskan kembali di dalam pesawat. Hal ini dapat menyebabkan perubahan rasa dan tekstur, yang memang tak terhindarkan dalam konteks penghangatan kembali.
Menurut sebuah laporan, penghangatan menggunakan oven konveksi yang meniupkan udara panas dan kering dapat membuat makanan kehilangan cita rasa. Perubahan ini menjadi salah satu alasan mengapa makanan yang kita nikmati di pesawat terasa berbeda dengan yang kita harapkan.
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa makanan pesawat bukan hanya sekadar masalah penyajian, melainkan merupakan kombinasi dari faktor lingkungan, teknik memasak, hingga persepsi kita terhadap rasa. Dengan memahami hal ini, kita bisa lebih menghargai usaha yang dilakukan untuk menyajikan makanan di ketinggian.




