Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) telah memutuskan untuk menutup jalur pendakian Gunung Ciremai karena kondisi cuaca yang ekstrem dan pentingnya pemulihan ekosistem. Keputusan ini diambil dalam rangka meningkatkan keselamatan pendaki dan memastikan kelestarian lingkungan di area tersebut.
Penutupan jalur pendakian ini diatur dalam surat edaran resmi yang diterbitkan oleh TNGC dengan nomor tertentu. Penutupan ini akan berlangsung pada beberapa jalur pendakian yang berbeda dan dijadwalkan dibuka kembali secara bertahap.
Jalur Pendakian Apuy ditutup dari tanggal 24 Januari 2026 hingga 1 Februari 2026, sedangkan Jalur Pendakian Linggajati ditutup mulai 27 Januari 2026 sampai 20 Maret 2026. Pembukaan kembali jalur akan dilakukan bagi pendaki yang sudah melakukan pemesanan secara resmi.
Penyebab Penutupan Jalur Pendakian di Taman Nasional Gunung Ciremai
Pihak TNGC mengidentifikasi berbagai faktor yang berkontribusi terhadap penutupan jalur pendakian. Salah satu alasan utama adalah banyaknya pohon yang tumbang di Jalur Apuy, yang terletak di Kabupaten Majalengka.
Selain itu, Jalur Linggajati, yang berada di Kabupaten Kuningan, juga mengalami penutupan akibat risiko longsor yang berpotensi membahayakan pendaki. Kejadian ini memerlukan perhatian serius untuk menjaga keselamatan komunitas pendaki.
Ady Sularso, Humas TNGC, menegaskan pentingnya menutup jalur ketika situasi cuaca tidak memungkinkan. Ia menjelaskan bahwa banyaknya pohon tumbang dan longsoran tanah merupakan tanda bahwa kondisi saat ini tidak aman untuk aktivitas pendakian.
Kebijakan di Jalur Lain dan Potensi Penutupan Tambahan
Meskipun dua jalur utama yang telah disebutkan ditutup, terdapat kemungkinan jalur lain seperti Palutungan, Saderehe, dan Linggasana juga akan ditutup jika cuaca terus menunjukkan kondisi ekstrem. Pihak TNGC sangat memperhatikan keamanan pendaki sebagai prioritas utama.
Ady menjelaskan, “Kami tidak dapat mengesampingkan kemungkinan penutupan jalur lain, terutama jika situasi berisiko tinggi bagi para pendaki.” Keputusan untuk menutup jalur dilakukan dengan pertimbangan matang berdasarkan analisa risiko.
Pihak TNGC terus memonitor situasi cuaca dan kondisi jalur. Jika ada perubahan signifikan yang dapat membahayakan pendaki, penutupan bisa dilakukan secara mendadak untuk melindungi keselamatan pengunjung.
Pengelolaan Ekosistem dan Kebijakan Pemulihan Selama Ramadan
Di samping penutupan jalur pendakian akibat cuaca ekstrem, TNGC juga mengumumkan kebijakan yang lebih luas terkait pemulihan ekosistem. Selama bulan Ramadan, mulai dari 20 Februari hingga 20 Maret 2026, seluruh jalur pendakian akan ditutup.
Penutupan selama Ramadan ini bertujuan untuk memberi kesempatan pada alam untuk pulih. Ady menjelaskan bahwa langkah ini bertujuan untuk mengurangi dampak manusia terhadap lingkungan di sekitar Gunung Ciremai.
Setelah bulan Ramadan selesai, jalur pendakian direncanakan untuk dibuka kembali pada 21 Maret 2026. Langkah ini sekali lagi memperlihatkan komitmen TNGC dalam menjaga keseimbangan ekosistem di daerah tersebut.
Sebagai kawasan yang kaya akan keanekaragaman hayati, Taman Nasional Gunung Ciremai memerlukan perhatian dan perlindungan. Dengan menutup jalur pendakian, pemerintah setempat berharap dapat memelihara kelestarian lingkungan secara berkelanjutan.






