Di tengah tren global di mana anak muda santer melakukan perjalanan internasional, Jepang mengalami fenomena yang mencolok. Generasi muda di negara ini justru memilih untuk berwisata di dalam negeri alih-alih menjelajahi destinasi luar negeri.
Hal ini menarik perhatian Japan Airlines (JAL), yang kini menghadapi tantangan besar dalam menarik kembali minat anak muda Jepang untuk bepergian ke luar negeri. Presiden JAL, Mitsuko Tottori, menyoroti pentingnya isu ini bagi pertumbuhan ekonomi Jepang ke depan.
Tottori menyatakan bahwa jika generasi muda tidak didorong untuk menjelajahi dunia, dampaknya akan signifikan bagi perekonomian negara. Sejak menjabat pada awal 2024, dia menganggap masalah ini sebagai tantangan jangka panjang bagi maskapainya.
Alasan di Balik Pilihan Wisata Domestik Kaum Muda Jepang
Penyebab utama mengapa anak muda Jepang lebih memilih berwisata di dalam negeri terlihat jelas. Salah satu faktor kunci adalah nilai tukar Yen yang melemah, yang mengakibatkan biaya perjalanan ke luar negeri menjadi sangat tinggi.
Berdasarkan pengamatan, harga-harga untuk akomodasi dan makanan di negara-negara seperti Amerika dan Eropa juga semakin melambung. Hal ini kian memperkuat keputusan anak muda Jepang untuk tidak meninggalkan tanah air mereka.
“Saat ini, harga-harga di luar Jepang dan lemahnya nilai Yen sangat berpengaruh terhadap keputusan mereka untuk berwisata ke luar negeri,” ujar Tottori, menambahkan harapannya agar nilai Yen bisa segera menguat.
Inisiatif Japan Airlines untuk Menarik Minat Perjalanan
Untuk merangsang kembali minat kaum muda, JAL telah meluncurkan beberapa inisiatif menarik. Salah satu program yang diperkenalkan adalah DREAM MILES PASS, yang dirancang untuk mempermudah anak muda dalam mengumpulkan miles saat melakukan perjalanan.
Selain itu, JAL juga menawarkan program JAL Card Skymate, yang memberikan penawaran harga lebih terjangkau bagi pelancong muda. Langkah-langkah ini diharapkan bisa membangkitkan kembali minat generasi muda untuk bepergian ke luar negeri.
Tak hanya itu, JAL pun menghias badan pesawat mereka dengan gambar bintang bisbol legendaris, Shohei Ohtani, sebagai usaha untuk menarik perhatian kaum milenial dan Gen Z.
Dampak Pilihan Wisata Domestik Terhadap Destinasi Favorit
Dampak dari keputusan anak muda Jepang untuk tidak berwisata ke luar negeri sangat terasa pada destinasi yang sebelumnya menjadi favorit mereka. Salah satu lokasi yang paling terdampak adalah Hawaii, yang dulu menjadi surga bagi wisatawan Jepang.
Kombinasi antara nilai tukar yang rendah, tarif hotel yang melambung, dan kurangnya minat dari generasi baru mengakibatkan permintaan terhadap perjalanan ke Hawaii merosot tajam. Banyak yang khawatir bahwa ketenaran Hawaii di kalangan wisatawan Jepang tidak akan kembali seperti sebelumnya.
Meskipun JAL merasa cemas dengan situasi ini, beberapa analis memiliki perspektif berbeda. Mereka menyebutkan bahwa lemahnya nilai Yen dapat membawa berkah bagi perekonomian domestik Jepang.
Jika warga Jepang lebih banyak menghabiskan uangnya di dalam negeri, sementara turis asing berdatangan ke Jepang dalam jumlah besar karena harga yang lebih terjangkau, hal ini secara tidak langsung menguntungkan bagi ekonomi lokal. Penurunan minat bepergian ke luar negeri mungkin bisa merugikan laba maskapai, namun ia mendatangkan keuntungan bagi sektor pariwisata Jepang yang sedang berkembang pesat.






