Sepanjang tahun 2025, sejumlah insiden kecelakaan pesawat terjadi yang menimbulkan banyak korban jiwa. Meskipun ada peningkatan jumlah kecelakaan, keselamatan penerbangan secara keseluruhan sebenarnya mengalami perbaikan. Tren yang nampak mencolok adalah meski total kematian meningkat, risiko dari penerbangan secara keseluruhan justru menurun.
Tahun lalu, tercatat bahwa jumlah korban tewas akibat kecelakaan pesawat di seluruh dunia mencapai 366 orang. Sementara itu, 37 orang lainnya mengalami cedera serius akibat turbulensi yang dialami saat penerbangan berlangsung.
Selama tahun 2025, tingkat kecelakaan fatal pada penerbangan menurun secara signifikan. Data menunjukkan bahwa pada tahun 2024, perbandingan kecelakaan fatal adalah 1 banding 5 juta penerbangan, namun di tahun 2025 menjadi 1 banding 7 juta penerbangan, sebuah kemajuan yang patut diapresiasi.
Mengapa Kecelakaan Pesawat Masih Terjadi di Tahun 2025?
Walau ada penurunan risiko, insiden kecelakaan tetap terjadi dan menjadi perhatian banyak pihak. Ahli keselamatan dari konsultan penerbangan menyoroti bahwa setiap kecelakaan membawa serta pelajaran berharga untuk meningkatkan standar keselamatan di seluruh dunia. Hal ini menjadi penting untuk mengurangi frekuensi dan dampak kecelakaan di masa depan.
Salah satu tragedi yang paling memilukan adalah jatuhnya pesawat Air India AI171 pada 12 Juni 2025. Pesawat jenis Boeing 787 yang mengangkut 242 penumpang saat itu terjatuh tak lama setelah lepas landas dari Ahmedabad. Hampir semua penumpang meninggal dunia dalam kecelakaan tragis ini.
Penyelidikan menunjukkan bahwa kecelakaan tersebut disebabkan oleh kegagalan pada saklar bahan bakar mesin, yang mengakibatkan kedua mesin pesawat kehilangan tenaga saat lepas landas. Hanya satu penumpang, Vishwash Kumar Ramesh, yang dapat selamat dengan susah payah meloloskan diri melalui celah yang terbuka pada badan pesawat.
Tragedi Kecelakaan Lain yang Tidak Kalah Mengerikan
Kecelakaan lain terjadi pada 29 Januari 2025, di mana 64 orang yang terdiri dari penumpang dan kru pesawat American Airlines tewas setelah pesawat mereka menabrak helikopter militer. Kejadian ini sedang dalam proses investigasi, dan laporan awal menyebutkan bahwa kesalahan manusia merupakan faktor utama dalam tabrakan tersebut.
Di Rusia, kecelakaan juga terjadi pada 24 Juli 2025, ketika pesawat Antonov An-24 milik Angara Airlines jatuh akibat menggunakan metode navigasi yang tidak tepat dalam kondisi cuaca buruk. Pesawat tersebut terbakar setelah jatuh ke tanah, menambah daftar panjang insiden tragis dalam industri penerbangan.
Kecelakaan lain yang tak kalah sulit adalah jatuhnya pesawat baling-baling Jetstream 32 setelah lepas landas dari Roatan, Honduras, yang menyebabkan 13 orang tewas. Meski demikian, ada beberapa penumpang yang berhasil bertahan hidup meski mengalami cedera serius.
Pentingnya Pembelajaran dari Kecelakaan Pesawat untuk Meningkatkan Keselamatan
Berdasarkan berbagai insiden di tahun 2025, para pakar keselamatan menerima tantangan untuk terus mengkaji dan memperbaiki standar keselamatan penerbangan. Kejadian-kejadian ini menjadi pengingat untuk industri bahwa upaya pencegahan harus selalu didahulukan dari reaksi terhadap kecelakaan yang sudah terjadi.
Setiap kecelakaan menyisakan banyak pertanyaan dan memerlukan analisis mendalam untuk memahami faktor-faktor penyebabnya. Kesadaran akan pentingnya keselamatan penerbangan harus dijadikan prioritas utama, bukan sekadar sudah ada kejadiannya.
Dengan meningkatnya teknologi dan sistem keselamatan yang lebih baik dalam penerbangan, diharapkan insiden serupa dapat diminimalkan. Kehati-hatian dan antisipasi terhadap potensi bahaya adalah hal yang harus selalu ditanamkan dalam dunia penerbangan.





